Sunday, May 1, 2016

Suara Hati

Rasa lelah karena mengkhawatirkanmu , lebih menyesakan di bandingkan membayangkanmu tersenyum untuk orang lain. Saat ketika pertama kali saya mengambil resiko berjudi dengan perasaan saya yang paling dalam karena berani memgatakan "Cinta", padahal kita sama tahu bagaimana ending perjalanan cinta ini. Tak akan pernah atau lebih tepat amat berat mewujudkan janur kuning yang melengkung walau mungkin sampai kita temukan masing masing dari kita mendapatkan bendera kuning.!. Saat kamu mempertanyakan apakah saya sudah berpikir kembali tentang cinta yang saya ucapkan? Tentang pilihan hati saya terhadapmu. Saat berkali kali kamu menolaknya, dan berkali kali juga saya mempertahankannya, mengejarmu, meski ketidak percayaanmu terhadap kesungguhan pilihan hati saya terhadapmu hampir hampir membuat saya berhenti
Dan menyerah.


Aku kangen kamu. Rasa kangen yang lebih membuat aku merasa seperti ingin kembali ke masa lalu. Masa dimana aku belum "addict" sama kamu. Masa dimana aku masih bisa menata masa depanku tanpa memikirkan masa depanmu.masa dimana aku dapat berjalan tegak tanpa harus memikirkan kamu. Masa dimana aku tak pernah di dera rasa kangen yang begitu sesak. Masa dimana aku tak pernah membawa seseorang ke dalam setiap langkah dan nafasku.


Aku pernah merasakan kehilangan cinta karena kematian. Bagaimana aku tersiksa menahan rasa kangen padanya yang mati tanpa memberi kepastian tentang masa setelah kematian dan bagaimana aku melewati semua itu sementara aku masih bernafas untuk orang lain yang aku kasihi. Dan bagaimana waktu melihat saya menghapus air mata yang bahkan menangispun tak ada lagi air mata.

Aku merindukanmu ! Kamu yang saat ini berada dalam ribuan mil jauhnya dari ku. Di pisah jarak dan waktu. Di pisah samudra. Tapi yang paling jauh adalah di oisah dari tempat menuju Tuhan. Apa saat ini aku masih bisa mengatakan masih sedikit beruntung ketimbang kehilangan karena kematian? . Tapi ini jauh lebih memyedihkan. Melihatmu hidup, tersenyum, tertawa, menangis dan menghitung kerutan karena waktu memakan usia kita. Kita melewatinya sendiri sendiri.
Kamu menua bersama orang lain. Merajut hari dan cerita yang pernah kita rancang dengan orang lain. Dan aku meredup sendirian. Menghitung setiap kerutan wajah dengan kenangan. Terjebak dalam cerita cinta yang tak pernah terwujud. Dalam sepenggal kisah yang terbingkai dalam kenangan. Waktu memakannya juga menyimpannya. Dan aku  terkunci di dalamnya. Bersama semua tentangmu. Tentang rajutan rajutan cerita yang menggumpal dan tak berwujud mwnjadi apa apa. Ahhh...apakah aku salah memgambil perjudian tentang perasaanku dan piliham cintaku atasmu? Dimana semua orang pernah  berkata. Bahwa cinta itu tak pernah salah. Begitu mudahnya mencintai swmua orang, daripada melupakan satu orang.

Apakah aku akan sama dan kembali seperti dulu? Hanya bisa bertanya padaNYA. kepada si pemilik catatan hidupku. Kenapa lagi lagi aku dipisahkan. Dan kembali memgutuki malaam dan bermusuhan dengan Tuhan untuk semua kesedihan ini. Karena bagaimanapun Tuhan kembali memecahkan semua impian ku bahkan jauh sebelum aku sempat merampungkan pondasi awal dari semua mimpi mimpi itu. Mimpi tentangmu. Bersamamu.
Mimpi tanpa perwujudan.

Aku ingin bertanya sekali lagi padamu
Masihkah ada keinginanmu untuk mewujidkan mimpi mimpi itu? Mimpi mimpi besar kita. ? Sebelum engkau ingin menyelesaikannya dan mewujudkannya dengan yang lain?


Phnom penh 2016

Untukmu, merliana abung
Wanita yang selalu ada dan terus ada dalam mimpiku.

No comments:

Post a Comment