SOMEWHERE OVER THE RAINBOW
Somewhere over the rainbow
Way up high..
There”s a land that I heard of once in a lullaby
Somewhere over the rainbow, skies are blue
And the dream that you dare to dream really do come true
Someday I”ll wish upon a star
And wake up where the clouds are far behind me
Where troubles melt like lemon drops away above the
chimney tops
That”s where you will find me..
Somewhere over the rainbow bluebirds fly..
Birds fly over the rainbow why then, oh..why can”t I ???
If happy little bluebirds fly beyond the rainbow..
Why, oh why can”t i……???
Aku begitu lesu melangkah membuka pintu kamar apartementku.
Langkahku lunglai dan gontai. Tak bertenaga. Rasannya semua tulang tubuhku tak
lagi bisa menopang berat badanku. Gemeretak. Gemetar. Badan yang kuyup oleh air
hujan menambah parah keadaanku. Bibirku kurasa membiru. Aku melepaskan sepatu
tanpa melihat dimana aku tempatkan. Ku letakkan sembarang tas ranselku. Cepat
menuju kamar mandi. Kunyalakan air hangat , tanpa membuka baju, ku guyur
kepalaku. Lalu tanganku membuka kaos dan jeans yang kupakai. Dan hangatnya air
lewat shower mengguyur tubuhku. Ku habiskan waktu sepuluh menit di dalam kamar
mandi. Dan masih di balut handuk, aku rebahkan tubuhku di sofa. Ahhh…
Ada jemari lembut tiba tiba kurasakan membelai lembut
rambutku.
“ ada apa denganmu, anakku?” suara lembut yang tak begitu
asing menyapaku. Suara yang begitu aku rindukan. Aku mencoba mengangkat
kepalaku.”bunda..”. tangannya menahanku.”tidurlah , mas. Bunda tahu kamu
lelah,”
“ bunda.” Air mataku mengalir hangat.
“ bunda tahu, kamu sangat mencintainya, bunda
merasakannya anakku.”
Aku terdiam. Kunikmati sentuhan hangatnya pada kepalaku.
“ tubuhmu panas, kamu itu tidak bisa kena hujan, mas. Kenapa memaksakan diri?”
“ apa yang mesti Mas lakukan, bunda. Haruskah Mas juga
kehilangannya? Mas mencintainya bunda.”rajukku.” Mas juga belum sempat
mengenalkannya pada bunda, tapi dia lebih memlih jalan ini. Memilih menjauh dan
menyerah,”
Belaian tangan perempuan yang melahirkanku ini terasa
sampai ke jiwa. Hangat dan mendamaikan.
“ Sayang. Jodoh, maut, rejeki dan takdir ada pada
tanganNYA. Dan mas mesti percaya itu. Bunda tahu kalian berbeda, tak mas
ceritakanpun bunda sudah mengenalnya. Dan apapun pilihanmu, bunda tak
melarangnya. Tapi bukan kita yang menentukan dia harus jadi milik kita atau
bukan. Tapi Allah sayang, hanya DIA. Yang mas mesti lakukan hanyalah berdoa.
Doakan namanya, pintalah dia pada pemilik hatinya. Yang bunda kenal, anak bunda
tak pernah menyerah, selalu bersemangat dan percaya pada DIA sepenuhnya. Tuhan
itu hanya satu anakku, meski manusia membuatnya menjadi banyak. Mungkin
begitulah manusia punya cara untuk memuja Tuhannya. Dan jika engkau doakan
namanya, namanya hanya satu di langit. Tersangkut di langit yang sama dengan
namamu. Meski dia tinggal di bumi, tapi carilah dia di langit. Agar Allah
menjatuhkan namanya pada hatimu dan buat dirimu. Dan ingat anakku, jika Allah
tidak memberikan nama yang kamu doakan untukmu, mungkin Allah akan memberikan
dia yang mendoakan namamu untuknya. Begitulah cara Allah bekerja. Pilihan NYA
adalah yang terbaik. Meski menurutmu tidak baik. Bukankah dalam ketidakbaikan
kamu akan melihat sebenar benarnya kebaikan. Dan di dalam kebaikan, sangat
sulit untuk melihat sebenar benarnya kebaikan.” Bunda mengucapkan kalimat
bijaknya dengan penuh cinta. Aku merasakan tubuhku menggigil. Dan jemarinya
yang hangat mencoba merangkulku. Mendekapku. Aku merasakan kembali menjadi
“little one” untuknya. Bunda tercintaku.
“ bersabarlah sayang. Semua orang berhak bahagia. Juga
mas. Juga gadis itu. Bunda selalu mengingatkan mas untuk bagaimana menghargai
seorang perempuan ,bukan? Bunda tahu dia gadis yang baik. Mas selalu
menceritakannya. Mas selalu menghormatinya. Mas selalu membanggakannya. Bunda
senang mas bisa menghargai perempuan dengan baik. Memperlakukan mereka dengan
hormat. Begitulah seharusnya lelaki. Jangan pernah khawatir sayang, sejatinya
lelaki hanyalah menunggu. Yang terkadang perempuan salah kaprah untuk ini.
Bukankah seorang pencari suaka akan mendatangi Negara yang memberinya suaka?
Bukan sebaliknya. Bukankah seseorang
yang ingin dilindungi, mendatangi pelindungnya?. Gadis itu akan mendatangi mas.
Jika hatinya membutuhkan mas sebagai tempat berlindungnya. Bersandarnya. Mas
lah pemberi suaka. Mungkin tidak sekarang. Mungkin dia harus mampir kebeberapa
tempat yang lain dulu, sebelum menemukan dirimu, mas.”
Jemariku menggenggam
tangannya erat. Air mataku tambah deras. Dan suhu badanku kurasakan tambah
hangat. Mataku terasa panas. Kepalaku masih berada di atas pangkuan Bunda.
Perempuan pertama yang aku cintai. Yang cintanya selalu penuh. Selalu mengalir
dan tak pernah habis. Betapa aku sangat merindukannya.
“ Mas, jangan jadi lelaki lemah, sayang. Bunda tak suka
melihatnya. Anak bunda adalah lelaki tangguh yang pantang menyerah. Coba mas
lihat, sudah berapa tahun mas tidak mengalah pada penyakit mas. Bunda tahu,
betapa sakitnya dan betapa menderitanya mas. Bunda tahu semua ttg hidupmu ,
anakku. Mas adalah jagoannya bunda. Dan itu tidak berubah. Dan jangan
dikalahkan oleh cinta. Bunda percaya mas percaya akan takdir dari Allah. Berdoa
yang banyak. Jangan lemah dan jangan menyerah. Berharaplah yang terbaik. Dunia
ini kecil, mas. Hanya selebar langkah kakimu. Gadis itu tidak akan pernah
menghilang dan jauh darimu. Mudah saja bagimu menemukannya, jika Allah
mengijinkannya. Itu pointnya. Jadi, mas harus dekat sama Allah. Setiap masalah
pasti akan ada jalan keluarnya. Karena begitulah hidup. Selagi masih di beri
kesempatan, manfaatkanlah dengan baik. Jaga kesehatannya, gak boleh sakit
seperti ini. Bunda yakin gadis itu akan menangis jika melihat keadaan mas
seperti ini. Bunda yakin, hatinya akan terluka. Bunda tahu, hatinya juga
mencintaimu. Dia juga tak tega membuat mas begini. Dia percaya akan Tuhannya.
Jika mas buatnya, Tuhan akan menyatukan kalian dalam restu langit. Bunda selalu
mendukungmu. Menginginkan kebahagiaanmu. Jangan menyerah yah, Mas”
Entah berapa lama aku tertidur. Aku hanya merasakan
hatiku begitu damai dan hangat. Ketika aku terbangun, tak kutemukan siapa
siapa. Hanya tubuhku masih terbalut handuk. Masih di sofa. Dan suhu tubuhku
mulai menurun. Aku mencari sekelilingku, ku coba mencari sosoknya. Suaranya
masih terasa mengiang di telingaku…suara lembut yang penuh cinta. Dan bibirku
gemetar memanggil namanya..
Bunda…
Aku bangkit dari sofa, masuk kembali ke kamar mandi.
Mengambil air wudhu. Ke kamar meraih baju koko dan kain sarung. Menggelar
sajadah. Kukerjakan beberapa rakaat , sebelum tertunduk sujud dan menangis
semalaman…
Mas akan mengingatnya bunda..setiap huruf dalam
kalimatmu. Terima kasih sudah datang. Mas serahkan semua sama Allah, jika
Merlin buat mas, dia akan datang. Dan Allah akan membawanya untuk Mas.
Bunda…mas merindukanmu !!
Dalam mimpiku semalam. Dan air mataku mengalir saat
menuliskan ini untuk ku ceritakan padamu.
27 august 2016
ARDJA KUMBARA

No comments:
Post a Comment